Posted by: aldyno283 | May 9, 2010

Soft Skill Dan Perilaku Korupsi

Secara harfiah, korupsi adalah perilaku pejabat publik, baik politikus politisi maupun pegawai  negeri yang secara tidak wajar dan tidak legal memperkaya diri atau memperkaya mereka yang dekat dengannya, dengan menyalahgunakan kekuasaan publik yang dipercayakan kepada mereka. Kasus-kasus korupsi di Indonesia sudah sangat banyak. Bahkan sebagian ilmu sosial sudah menyatakan bahwa korupsi itu sudah mengakar menjadi budaya bangsa Indonesia. Kalau benar pernyataan tersebut, tentunya akan bertentangan dengan konsep bangsa Indonesia yang memiliki nilai-nilai luhur seperti yang terkandung di Pancasila, ataupun seperti yang telah diajarkan oleh agama-agama yang berkembang subur di Indonesia.

Korupsi di Indonesia berkembang secara sistemik. Bagi banyak orang korupsi bukan lagi merupakan suatu pelanggaran hukum, melainkan sekedar suatu kebiasaan. Dalam seluruh penelitian perbandingan korupsi antar negara, Indonesia selalu menempati posisi paling rendah.

Kondisi yang mendukung munculnya korupsi :

  • Konsentrasi kekuasan di pengambil keputusan yang tidak bertanggung jawab langsung kepada rakyat, seperti yang sering terlihat di rezim-rezim yang bukan demokratik.
  • Kurangnya transparansi di pengambilan keputusan pemerintah
  • Kampanye-kampanye politik yang mahal, dengan pengeluaran lebih besar dari pendanaan politik yang normal.
  • Proyek yang melibatkan uang rakyat dalam jumlah besar.
  • Lingkungan tertutup yang mementingkan diri sendiri dan jaringan “teman lama”.
  • Lemahnya ketertiban hukum.
  • Lemahnya profesi hukum.
  • Kurangnya kebebasan berpendapat atau kebebasan media massa.
  • Gaji pegawai pemerintah yang sangat kecil.
  • Rakyat yang cuek, tidak tertarik, atau mudah dibohongi yang gagal memberikan perhatian yang cukup ke pemilihan umum.
  • Ketidakadaannya kontrol yang cukup untuk mencegah penyuapan atau “sumbangan kampanye”.

Dengan melihat beberapa kondisi di atas maka memang sudah sewajarnya perilaku korupsi itu timbul. Di zaman sekarang ini, dengan himpitan ekonomi yang begitu keras dan juga gaya hidup yang semakin mahal, masyarakat memang dihadapkan dengan realita hidup yang tidak sesuai dengan keinginan mereka. Dapat kita berikan satu contoh kasus korupsi yang melibatkan seorang pegawai negeri sipil yang masih golongan IIIA di Direktorat Jenderal Pajak Departemen Keuangan. Sebut saja namanya Gayus Tambunan. Dia memiliki kekayaan yang kurang lebih Rp 25 Miliar. Selain pekerjaannya menjadi PNS di Direktorat Jenderal Pajak, Gayus juga adalah seorang “markus” (makelar kasus) spesialis pajak.

Kita ketahui bersama, pegawai golongan IIIA di lingkungan DitJen Pajak memiliki gaji yang sudah cukup bagus untuk ukuran seorang pegawai negeri sipil, tetapi hasrat ingin memiliki lebih itulah yang mungkin menjadi motivasi terjadinya tindak korupsi. Sifat manusia memang pada dasarnya tidak akan pernah puas, itulah yang menjadi dasar dari semua perilaku korupsi yang tumbuh subur di negeri kita ini. Keserakahan memang penyakit mental yang perlu kita hindari. Untuk meraih semua mimpi dan keinginan, kita harus yakin akan kemampuan diri kita. Soft skill yang kita miliki mungkin bisa menjadi senjata untuk kita meraih semua mimpi yang kita miliki. Bukan berarti kemampuan dalam arti negatif, tetapi semua kemampuan kita yang memiliki sisi positifnya mungkin dapat membawa kita ke lingkungan yang bisa memberikan timbal balik sesuai dengan keinginan kita.


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: